Jurnalmediapublik.com, Metro – Institut Teknologi Sumatera (ITERA) kembali menunjukkan peran nyata dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Kali ini, tim dosen dan mahasiswa ITERA berhasil memberdayakan siswa SMA Negeri 3 Metro dengan memperkenalkan teknologi budidaya akuaponik berbasis energi terbarukan, yaitu panel surya, di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang berlangsung sepanjang tahun 2024 ini dipimpin oleh Septia Eka Marsha Putra, bersama Chalida Syari dan Christio Revano Mege. Tujuannya sederhana namun berdampak besar: mengubah green house sekolah yang sempat terbengkalai menjadi pusat pembelajaran modern sekaligus media berwirausaha bagi siswa.
SMA Negeri 3 Metro sebelumnya memiliki green house untuk budidaya tanaman hortikultura, namun masih menggunakan cara konvensional. Hasilnya kurang produktif, nilai ekonominya rendah, dan green house kini kosong tanpa tanaman pangan. Siswa juga belum terpapar teknik budidaya berbasis teknologi, apalagi kewirausahaan.

Melalui PKM skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat pendanaan BOPTN dari DPPM Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2024, tim ITERA memperkenalkan sistem akuaponik—kombinasi akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik (budidaya tanaman tanpa tanah). Ikan nila menghasilkan limbah yang kaya nutrisi, air limbah itu disirkulasi ke tanaman cabai, tomat, dan sayuran untuk nutrisi alami, sementara tanaman menyaring air kembali ke kolam ikan. Sistem ini ditenagai panel surya 300 wattpeak, sehingga ramah lingkungan dan hemat biaya listrik.
Tim melakukan serangkaian kegiatan: sosialisasi, diseminasi pengetahuan, pelatihan, dan pendampingan langsung. Siswa diajari mulai dari penyemaian benih, pindah tanam, pemeliharaan tanaman dan ikan, pemberian pakan sesuai takaran, hingga pemanfaatan energi surya. Evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa lebih dari 50% di hampir semua aspek, seperti budidaya akuaponik, operasi sistem, pembibitan, dan teknologi bioflok.
“Pengetahuan siswa mengenai sistem dan teknologi akuaponik serta penggunaan energi terbarukan mengalami peningkatan lebih dari 50%. Siswa juga mampu mempraktikkan budidaya mulai dari penyemaian hingga pemeliharaan,” demikian ringkasan laporan akhir PKM.
Fasilitas yang diserahkan kepada sekolah meliputi: 4 kolam akuaponik otomatis dengan bioflok, 500 ekor bibit ikan nila, 500 bibit cabai, 500 bibit tomat, dan 500 bibit sayuran, satu set panel surya 300 wattpeak, serta alat dan bahan pendukung lainnya.
Meski produksi massal belum terlihat signifikan karena masih tahap awal, dampak terbesar ada pada siswa. Mereka kini aktif memantau pertumbuhan ikan (menimbang massa dan panjang mingguan), memberi pakan, dan menjaga nutrisi tanaman. Ini menjadi bekal jiwa kewirausahaan, sejalan dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tema kewirausahaan dan Program Merdeka Belajar.

Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDG): SDG-2 (tanpa kelaparan) melalui ketahanan pangan, SDG-4 (pendidikan berkualitas), SDG-7 (energi bersih), serta potensi wirausaha digital di masa depan.
“Ini bukan hanya soal tanam dan panen, tapi membekali generasi muda dengan teknologi modern agar bisa mandiri dan berkontribusi pada ketahanan pangan di perkotaan,” ujar salah satu pelaksana.
Dengan kolaborasi ITERA dan SMAN 3 Metro, harapan besar muncul: sekolah ini menjadi contoh bagaimana pendidikan bisa berintegrasi dengan inovasi teknologi untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Semoga program serupa bisa diperluas ke sekolah-sekolah lain di Lampung dan sekitarnya, didukung stakeholder seperti Dinas Pendidikan setempat. (Rls/Herlan)





