Jurnalmediapublik.com, Metro – Institut Teknologi Sumatera (ITERA) terus memperkuat komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mandiri. Pada 12 Maret 2025, tim dosen Teknik Fisika ITERA berhasil melaksanakan Pelatihan Dasar Internet of Things (IoT) di SMA Negeri 6 Metro, salah satu sekolah unggulan di Kota Metro yang dikenal konsisten melahirkan lulusan berkualitas tinggi.
Kegiatan ini dipimpin oleh Ahmad Suaif, S.Si., M.Si. sebagai ketua tim, bersama anggota Dr. Vera Khoirunisa, S.Si., M.T., Christio Revano Mege, S.Si., M.T., Sefrani I.G. Siregar, S.T., M.T., serta Septia Eka Marsha, S.Si., M.Eng., Ph.D. Didukung mahasiswa Alvin Saputra dan Sofia Nur Ramadhnai, pelatihan ini melibatkan 17 siswa SMA Negeri 6 Metro yang antusias mengikuti sesi dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

Meskipun SMAN 6 Metro telah memanfaatkan berbagai teknologi modern dalam pembelajaran, teknologi Internet of Things (IoT)—konsep jaringan perangkat fisik yang terhubung internet untuk bertukar data secara otomatis—belum pernah diajarkan secara formal. Siswa belum familiar dengan teori maupun aplikasi praktisnya, padahal IoT kini menjadi fondasi rumah pintar, pertanian cerdas, kesehatan digital, hingga industri 4.0.
Melalui PKM ini, tim ITERA memperkenalkan IoT secara sederhana dan aplikatif. Sesi dimulai dengan diseminasi pengetahuan interaktif berupa presentasi multimedia, diskusi kelompok, kuis, dan simulasi virtual. Siswa mempelajari konsep dasar IoT, komponen utama seperti sensor, aktuator, mikrokontroler, serta konektivitas Wi-Fi.
Tahap inti adalah pendampingan praktik berbasis proyek: siswa dibagi kelompok kecil (4-5 orang) untuk merakit dan mengoperasikan sistem IoT sederhana, yaitu mengendalikan lampu via smartphone. Menggunakan mikrokontroler ESP32 (atau NodeMCU berbasis ESP8266), modul relay, lampu LED, serta aplikasi mobile yang terkoneksi Wi-Fi, siswa belajar merakit rangkaian, konfigurasi perangkat lunak, dan pengujian sistem secara langsung. Fasilitator dari ITERA mendampingi intensif, membantu siswa mengatasi masalah seperti koneksi Wi-Fi atau konfigurasi aplikasi.
Evaluasi menunjukkan hasil luar biasa. Pretest awal mengungkap skor rata-rata siswa hanya 39,41%, mencerminkan minimnya pemahaman IoT sebelumnya. Setelah pelatihan, posttest melonjak menjadi 80,59%—peningkatan lebih dari 100%! Semua kelompok berhasil membuat sistem bekerja: menyalakan dan mematikan lampu dari smartphone, bahkan bereksperimen dengan variasi pengaturan seperti waktu respons.
“Peningkatan ini membuktikan pendekatan gabungan teori interaktif dan praktik langsung sangat efektif. Siswa tidak hanya paham konsep, tapi juga mampu mengaplikasikannya secara mandiri dengan kreativitas tinggi,” ungkap salah satu pelaksana dalam laporan akhir kegiatan.
Sebagai dukungan keberlanjutan, sekolah difasilitasi dengan mikrokontroler ESP32, modul relay, serta alat pendukung lainnya agar siswa bisa terus berlatih dan mengembangkan proyek IoT mandiri. Kegiatan ini juga selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG-4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan literasi teknologi dan keterampilan abad 21, serta SDG-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan mendorong inovasi teknologi berkelanjutan.
Tim berencana melanjutkan program ke aplikasi lebih kompleks, seperti pemantauan dan pengendalian kualitas air berbasis IoT untuk budidaya ikan nila—mengintegrasikan IoT dengan pengalaman sebelumnya di bidang akuakultur.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tapi investasi untuk mempersiapkan generasi muda Metro menghadapi era digital. Dengan IoT, mereka bisa menciptakan solusi cerdas untuk masalah sehari-hari, dari efisiensi energi hingga pertanian modern,” tambah tim.
Kegiatan PKM ITERA di SMAN 6 Metro ini menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat berkolaborasi dengan sekolah untuk memajukan pendidikan teknologi di daerah. Semoga inisiatif serupa terus berkembang, membekali lebih banyak siswa Indonesia dengan keterampilan digital yang relevan dan kompetitif di masa depan. (Rls/Herlan)





