Jurnalmediapublik.com, Musi Banyuasin – Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) genap berusia 13 tahun hari ini. Momen bersejarah ini diperingati lewat Sidang Paripurna Istimewa DPRD yang berlangsung sederhana namun sarat makna, dengan semangat persatuan sebagai pondasi utama kemajuan daerah.

Acara dibuka langsung oleh Ketua DPRD Muratara, Devi Arianto, dan dihadiri pimpinan instansi daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, serta para pendiri daerah ini sejak ditetapkan sebagai wilayah otonomi pada tahun 2013.
Dalam pidatonya yang diawali dengan pantun ucapan syukur, Devi Arianto menggarisbawahi tema peringatan tahun ini: “Bersatu, Berjuang, Muratara Maju”. Ia mengibaratkan persatuan seperti seikat lidi—lemah jika berdiri sendiri, namun tak mudah dipatahkan jika bersatu. Menurutnya, sinergi antara lembaga legislatif, eksekutif, seluruh unsur pemerintahan, dan masyarakat adalah syarat mutlak agar setiap kebijakan benar-benar berpihak pada rakyat dan menjawab tantangan zaman.
“DPRD berkomitmen penuh bersinergi dengan Pemerintah Daerah. Kita tidak bisa berjalan sendiri; hanya dengan persatuan dan kerja keras kita bisa mewujudkan Muratara yang damai, indah, dan makmur,” tegas Devi.
Capaian Membanggakan di Usia ke-13
Bupati Muratara, H. Devi Suhartoni, menyampaikan laporan perkembangan daerah berbasis data resmi BPS tahun 2025 yang menunjukkan kemajuan nyata:
✅ Angka kemiskinan turun dari 17,38% menjadi 15,25% – sekitar 4.000 warga terlepas dari garis kemiskinan
✅ Indeks Pembangunan Manusia naik menjadi 71,39 poin – masuk kategori tinggi
✅ Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,03%, ditopang sektor perkebunan kelapa sawit dan karet
✅ Tingkat pengangguran ditekan hingga 4,78%
Keterbatasan Anggaran, Alasan Perayaan Sederhana
Di balik prestasi tersebut, Bupati juga berterus terang menyampaikan kendala yang masih dihadapi. Tantangan terbesar saat ini adalah kondisi keuangan daerah yang terbatas akibat penurunan pendapatan serta keterlambatan penyaluran dana dari pemerintah pusat. Hal ini berdampak pada pelambatan pembangunan infrastruktur jalan, jaringan listrik, fasilitas pendidikan, dan kesehatan di wilayah terpencil.
Karena alasan itulah, peringatan HUT kali ini diselenggarakan secara hemat dan sederhana—tanpa mengundang tamu dari luar daerah—sebagai bentuk efisiensi anggaran.
“Kesederhanaan ini bukan kurangnya rasa syukur, melainkan wujud tanggung jawab mengelola uang rakyat. Kita hematkan hal yang tidak mendesak, alihkan untuk kepentingan utama masyarakat. Bangunlah sedikit tapi bermanfaat, dan mari tetap bersatu tanpa saling menyalahkan di tengah segala keterbatasan,” ujar Devi Suhartoni seraya memohon pengertian seluruh elemen masyarakat.
Meski berjalan sederhana, semangat untuk terus berjuang dan bersatu tetap menyala terang—menjadi bekal utama Muratara melangkah ke tahun-tahun pembangunan selanjutnya.
(Feriansyah)







