Jurnalmediapublik.com, Musi Rawas Utara – Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) memperingati Hari Lahir Pancasila dengan penekanan makna mendasar: Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan fondasi moral dan arah pembangunan daerah. Dalam upacara khidmat yang digelar di halaman SMP Negeri 1 Rupit, Senin (1/6/2026), Bupati Devi Suhartoni menegaskan bahwa pemahaman dan penerapan nilai dasar negara ini harus menjadi prioritas utama, terutama dalam dunia pendidikan dan tata kelola pemerintahan.

Dipimpin langsung oleh Bupati Devi, upacara ini dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Andrean Fatorsyah, jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), unsur TNI-Polri, serta ratusan tenaga pendidik dan pelajar. Dalam amanatnya, Devi menegaskan bahwa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, Pancasila adalah satu-satunya ikatan yang menjaga persatuan, sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, ia mengingatkan bahwa pemahaman ini tidak boleh berhenti sebatas hafalan materi pelajaran.
“Pancasila harus diajarkan sejak usia dini sebagai cara berpikir dan bertindak, bukan sekadar teori. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan kita menghargai perbedaan dan menjaga alam; sila-sila lainnya memandu kita berinteraksi, bersatu, dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah. Ini adalah kunci menjaga keutuhan dan kedamaian di Muratara,” tegas Devi.
Salah satu sorotan utama dalam pidato Bupati adalah transformasi pola pikir terkait pendidikan. Devi mengakui bahwa di masa lalu, warga Muratara bisa meraih kesuksesan melalui sektor agraris seperti perkebunan karet dan kelapa sawit tanpa pendidikan tinggi. Namun ia menegaskan, dinamika zaman telah berubah. Kemajuan dan kesejahteraan masa depan hanya dapat diraih melalui ilmu pengetahuan yang luas dan berkualitas.
“Dulu pengalaman cukup membawa hasil, tapi sekarang kemajuan menuntut kompetensi dan wawasan. Pendidikan tinggi bukan sekadar soal ijazah, tapi cara kita membangun pola pikir sistematis, membuka wawasan, dan memutus rantai keterbatasan. Saya mendorong generasi muda Muratara mendalami Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), karena kebutuhan daerah akan tenaga ahli di bidang ini sangat besar untuk pembangunan ke depan,” ujarnya.
Komitmen ini juga dibuktikan dalam kebijakan pemerintah daerah. Di tengah keterbatasan anggaran akibat pemotongan dana transfer pusat berturut-turut sejak 2023 hingga 2026, Pemkab Muratara tetap memprioritaskan sektor pendidikan. Hal ini tercermin dari perlakuan adil bagi seluruh tenaga pendidik—baik ASN, P3K, maupun staf pendukung—serta bantuan seragam dan tas bagi siswa kurang mampu. Langkah ini diambil demi memastikan tidak ada anak yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi, sebuah isu yang sangat diperhatikan oleh Bupati berdasarkan pengalaman masa lalunya.
Selain aspek akademis, penanaman nilai karakter dan spiritual juga menjadi perhatian serius. Bupati Devi mengapresiasi tradisi positif yang tumbuh di sekolah-sekolah, seperti kegiatan pengajian pagi dan pembacaan Surat Yasin setiap Jumat. Ia berharap kebiasaan baik ini merambah hingga ke hampir 200 titik kegiatan di seluruh kecamatan, karena nilai kebaikan yang ditanam akan menjadi modal sosial yang membawa berkah bagi kemajuan daerah.
“Pendidikan karakter tidak kalah penting dengan ilmu pengetahuan. Sekolah harus menjadi tempat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga bersih, sehat, dan nyaman. Saya mengimbau seluruh satuan pendidikan untuk aktif menanam pohon dan menjaga fasilitas, termasuk kebersihan toilet, agar lingkungan belajar mendukung tumbuhnya generasi berkualitas,” tambahnya.
Di tengah tekanan fiskal dan dinamika sosial, Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga sikap konstruktif. Ia meminta kritik disampaikan secara santun dan membangun, serta mengingatkan agar tidak menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. “Keterbatasan anggaran adalah tantangan bersama, mari hadapi dengan berpikir positif dan mendoakan kebaikan bagi bangsa dan daerah,” tegasnya.
Terakhir, namun tak kalah penting, Devi memberikan perhatian khusus terhadap pencegahan perundungan. Ia meminta seluruh tenaga pendidik menjadi garda terdepan dalam menghentikan segala bentuk kekerasan, baik di dalam maupun luar sekolah. Pendekatan kekeluargaan dan komunikasi yang baik diharapkan menjadi solusi utama dalam membimbing siswa yang berperilaku menyimpang, demi menjaga masa depan generasi Muratara.
Upacara ini ditutup dengan harapan agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya diperingati hari ini saja, tetapi terus hidup dan menjadi pedoman setiap langkah pembangunan dan kehidupan warga Kabupaten Musi Rawas Utara.
(ADV/Fery)







